Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts

Kisah Duka Anak Yatim Piatu Di Ultah Tetangganya

Kumpulan Doa Islami - Halo kawan-kawan, pada kesempatan ini kami akan membuatkan sepenggal kisah kisah perihal anak yatim piatu yang menghadiri pesta ulang tahun tetangganya. Kisah kisah ini sangat inspiratif dan juga menyedihkan. Semoga sanggup menginspirasi bagi para kawan-kawan semua setelah membacanya dan tentunya bermanfaat. Amiin.

OK. Untuk kisah kisah selengkapnya, silakan eksklusif saja kawan-kawan simak atau baca kisah kisah anak yatim piatu duka dan inspiratif berikut ini :

Dikisahkan, seminggu kemudian datanglah permintaan untuk kami belum dewasa penghuni Panti Asuhan, diantarkan seorang ibu dan anak gadisnya sekolahnya kira-kira di SMA. Mereka naik Corolla biru, dari pakaian, cara bicara dan sikap kelihatan tamu ini orang gedongan atau golongan yang hidup lebih dari kecukupan. Mereka mengundang belum dewasa panti asuhan untuk ikut program ulang tahun rabu jam tujuh malam. Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan berjumlah dua puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama jalan kaki bersama, sebab jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja.

Rombongan dipersilahkan masuk dengan ramah dan belum dewasa berusaha duduk di belakang-belakang saja, tapi disuruh berbaur dengan tamu-tamu lainnya para remaja belasan tahun. Mereka sehat-sehat, harum-harum Berbaju mahal dan tembem-tembem pipinya, saya berjuang melawan sifat minder saya duduk di tengah ruang tamu yang luas di atas karpet bersila, pegal dan canggung di antara jajaran barang antik dan macam-macam perabotan di bawah lampu kristal bergelantungan. Tapi alangkah saya jadi heran tidak ada program potong camilan manis dan tiup lilin, tidak ada tepuk tangan mengiringi Lagu Hepi-Bisde-Tuyu Hepi-Bisde-Tuyu.

Lalu seorang remaja membaca surah Luqman dengan bunyi amat merdunya dan suaranya berubah jadi untaian mutiara yang berkilauan jadi kalung di leher pendengarnya. Kemudian Lia yang berulang tahun berpidato sangat mengharukan ”Dalam program menyerupai ini Bukan saya yang jadi sentra perhatian diperingati atau dihargai, tapi mama, ya, mama kita, ibunda kita dan ayahanda. Ibunda dan ayahanda sentra perhatian kita. Hari ini, enam belas tahun yang kemudian mama melahirkan saya Posisi saya sungsang Saya terlalu besar Kaprikornus mama harus sectio Caesaria mama dibedah, berdarah-darah Seluruh keluarga khawatir dan berdoa Di luar ruang operasi duduk menanti gosip dalam kecemasan luar biasa. Tapi alhamdulillah, kelahiran selamat walau pun mama sangat menderita kini ini, enam belas tahun kemudian Ulang tahun saya dirayakan, saya pikir, tidak logis saya yang jadi sentra perhatian, harusnya mama yang jadi sentra perhatian, mama dan bukan saya. Saya pikir, tidak logis saya minta kado, harusnya mama yang diberi kado…”

Anak gadis itu berhenti sebentar Dia sangat terharu Kemudian dia mengambil sebuah bungkusan kertas berkilat, diikat pita berbentuk bunga ”Mama Terima kasih mama, terima kasih Mama telah melahirkan saya dengan susah payah Mama menyabung nyawa Berdarah-darah persis malam ini, 16 tahun yang lalu. Terimalah rasa terima kasih ananda tidak seberapa harganya.” Mamanya bangkit Terpukau pada kata-kata anak gadisnya, terharu pada jalan pikirannya yang dia tak sangka-sangka, dia eksklusif memeluk anaknya terguguk-guguk menangis. Keduanya tersedu-sedu, hadirin menitikkan air mata pula, suasana mencekam terasa Dan damai agak lama.


Kemudian abang pembawa program berkata ”Para hadirin yang mulia, ini memang kejutan bagi kita Karena dengan tahun yang kemudian program ini begitu berbeda, Lia tidak mau tiup lilin, sebab ditemukannya di ensiklopedia, Manusia di Zaman Batu di Eropa percaya pada kekuatan nyala lilin, begitu tahayulnya sanggup mengusir sihir, roh jahat, leak dan memedi begitu katanya, termasuk sijundai, setan, hantu, kuntilanak dan gendruwo. Dan itu berlanjut ke zaman Romawi kuno, kemudian dikarang lagi berikutnya superstisi Yaitu apabila lilin-lilin itu sekali tiup nyalanya semua mati maka akan terkabul apa yang jadi harapan di dalam hati. Lia tidak mau program ulang tahunnya jadi bernoda oleh tahayul.

Acara yang ditentukan oleh budaya jahiliah zaman purbakala Katanya: ’Kok tiupan nyala 16 lilin sanggup memilih nasib saya ?, Alloh SWT yang memilih nasib saya setelah kerja keras saya, saya tidak mau dibodoh-bodohi tahayul Walau pun itu datangnya dari barat atau pun timur juga, saya tidak mau dibodoh-bodohi budaya mereka Minta kado dari Papa dan Mama Minta kado dari keluarga dan kawan-kawan saya. Saya tidak mau cuma jadi kawanan burung kakaktua Burung beo yang pintar memalsukan etika Belanda dan Amerika Dalam program ulang tahun kita’ Begitu katanya.”

Sesudah bertangis-tangisan dengan ibunya Berkatalah yang berulang tahun itu ”Hadiah paling saya harapkan dari kalian Adalah doa bersama setelah hamdalah dan shalawat, sebab saya ingin jadi anak yang baik perilakunya, jadi tambahan di leher ibuku, jadi penyenang hati ayahku, rukun dengan kakak-kakak dan adik-adikku, bertegur-sapa dengan semua tetangga, dan kelak saat remaja Berguna bagi Indonesia.”

Anak yatim piatu yang menerima permintaan itu, lihatlah bersama kawan-kawannya dipersilahkan makan bersama-sama, dengarlah kisah risikonya kini : ”Dalam program makan kunikmati nasi Beras Rajalele yang putih gurih, dendeng tipis balado, ikan emas panggang dan udang goreng, besar dan gemuk-gemuk, belum pernah saya memegang udang sebesar itu. Di asrama ikan asin dan tempe menyerupai nyanyian yang nyaris abadi, dadang-kadang makan pun cuma sekali sehari. Ketika kulayangkan pandangku ke depan, kulihat tuan rumah yang baik hati itu, Bapak dan ibu itu Berdiri bersama Lia anak gadisnya berbicara amat mesranya. Kubayangkan ayahku almarhum, mungkin seusia dengan bapak ini, ia meninggal saat umurku setahun. Kubayangkan ibuku almarhumah wafat saat saya kelas enam SD Mungkin seusia pula dengan ibu itu, tidak pernah saya merayakan ulang tahunku, tidak pernah.

Semoga syurga firdaus jua Bagi ibu bapakku

Panas mengembang di atas pipiku Tak tertahan Titik air mataku.”

--------- Tamat -----------

Kisah Duka Mengharukan Anak Sholih Yang Mendoakan Ayahnya

Kumpulan Doa Islami - Berikut ini akan kami share sebuah kisah anak sholeh yang berdoa untuk ayahnya. Kisah dongeng ini sangat inspiratif namun juga murung dan mengharukan. Semoga kisah dongeng ini sanggup menginspirasi bagi para pembaca semua untuk selalu mendoakan orang-orang yang kita sayangi terutama berdua untuk kedua orang tua.

Untuk bacaan doa-doa anak sholeh, Anda sanggup mempelajarinya pada artikel kami yang terdahulu. Silakan sanggup Anda pelajari di label : Doa Anak Sholeh

Oke... Lanjut ke topik pembahasan kali ini wacana kisah anak sholeh yang berdoa untuk ayahnya, silakan eksklusif saja simak kisah selengkapnya berikut ini :

Dilansir dari laman islampos, Syaikh Umar bis Sa’ud menceritakan seorang cowok yang shalih. Ia cinta kepada orang-orang yang baik, dan ia bahagia bergaul dengan mereka.

Ia memiliki ayah yang bertolak belakang dengannya. Ayahnya tidak menyukai orang-orang shalih. Seringkali ia mengusir mereka dari rumahnya ketika ia lihat orang-orang shalih tersebut sedang gotong royong dengan anaknya. Ia sama sekali tidak mempedulikan bagaimana perasaan anaknya.

Meskipun perilaku anaknya demikian, namun cowok itu tetap santun terhadap ayahnya. Kerap kali ia mendoakan kebaikan bagi ayahnya.

Suatu malam, di ketika ayahnya mendapat hidayah…


Pemuda itu bangun shalat di sepertiga malam akhir. Ia shalat sebagaimana biasanya, kemudian di rakaat terakhir ia mengangkat tangannya ke langit. Ia berdoa untuk ayahnya biar mendapat hidayah. Tidak usang air matanya mulai menetes dari kedua matanya. Ia menangis. Doa yang penuh kejujuran itu meluncur dari lubuk hatinya yang dipenuhi rasa khawatir dan takut, kalau-kalau ayahnya tidak mendapat hidayah.

Di saat-saat yang penuh dengan kepasrahan untuk berlindung kepada Allah tersebut, maka ayah cowok tersebut masuk ke dalam rumah. Ia gres saja tiba sesudah bergadang semalaman. Samar-samar ia mendengar tangisan yang memelas menahan kepedihan. Ia pun tergerak untuk mencari sumber tangisan tersebut.

Ketika hingga di depan kamar anaknya, dan ia bermaksud untuk membuka pintu kamar tersebut, tiba-tiba ia mendengar bunyi anaknya yang sedang berdoa kepada Allah dengan penuh kerendahan dan kekhusyu’an. Ia mendengar anaknya sedang berdoa untuk ayahnya biar mendapat hidayah.

Seketika ayahnya terenyuh. Ia jatuh dan dan berlutut di depan pintu kamar anaknya. Ia pun menangis seraya berkata, “…Anakku… ia berdoa untukku, sementara saya mencabik-cabik perasaanya… ia berdoa demi kebaikanku, sementara saya justeru memusuhinya…”

Di ketika menyerupai itu, sang anak telah selesai dari shalatnya. Ketika ia membuka pintu kamar, tiba-tiba ayahnya sedang duduk dalam keadaan menangis. Ketika melihat anaknya, maka tangisan sang ayah semakin menjadi-jadi. Ia pun peluk anaknya erat-erat seraya berkata, “Demi Allah, semenjak ketika ini ayah tidak akan melukai hatimu lagi.”

Yang sangat mengagumkan ialah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Umar wacana keduanya sesudah tragedi itu. Syaikh berkata, “Setelah tragedi itu, ayahnya sering shalat bersama dengan anaknya di selesai malam.”

Kisah Inspiratif Laki-Laki Homoseksual Yang Masuk Islam Dan Kembali Hidup Normal

Kumpulan Doa Islami - Imam Besar Masjid New York asal Indonesia Shamsi Ali yakin bahwa orientasi seks homoseksual sanggup kembali hidup normal. Ia berkisah wacana laki-laki gay tinggi bertato yang sekarang menjadi muridnya. Beberapa tahun lalu, Shamsi Ali ditelpon oleh seorang sopir limo di kota New York. Menurutnya ada pelanggan kendaraan beroda empat ia yang ingin berguru Islam.

“Saya meminta ia semoga tiba ke masjid,” ungkapnya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/2/2016) ibarat dilansir dari laman Islam Post.

Di suatu hari, lanjutnya, datanglah orang itu. Ia berkulit putih, dengan badan tinggi besar dan bertatto. Setelah duduk Shamsi bertanya, “Kenapa mau berguru Islam?,”

Dia menyampaikan sebab ia ingin jalan hidup yang menuntunnya dalam 24 jam 7 hari. Dia beragama Budha dikala itu. Walaupun lahir Katolik, kemudian pindah Protestan, dan jadinya masuk Budha. Bahkan ketika tiba ke Shamsi, laki-laki tersebut berpakaian biksu untuk tujuan menghargainya sebagai Imam.

Singkat cerita, Presiden Nusantara Foundation ini menjelaskan bagaimana Islam menuntun hidup insan dalam 24 jam sehari semalam.

“Baru beberapa menit ia memotong saya dan bertanya: apakah benar saya bisa diterima sebagai Muslim?”

Saya jawab: “semua insan dirangkul oleh Islam dan semua mempunyai peluang yang sama untuk menjadi yang terbaik.”

Dirinya kemudian menjelaskan tuntunan Islam. Tapi orang tersebut memotong penjelasannya lagi, “Are you sure I can be accepted in Islam?”

Karena terkejut Shamsi pun bertanya, “Kenapa bertanya demikian?”

“Because I am a gay,” jawabnya jujur.

Saya, kata laki-laki kelahiran Sulawesi ini, kemudian bertanya kepadanya, semenjak kapan Anda mencicipi ibarat itu? Apakah semenjak kecil? Dia membisu sejenak kemudian menyampaikan bahwa dirinya seorang gay dikala memulai bisnisnya sebagai event organizer dalam bidang fashion show. Pergaulannya di dunia model yang menjadikannya mempunyai kecenderungan ibarat itu.

Shamsi membuktikan bahwa menjadi muslim tidak sekadar pindah agama. Tapi mau melaksanakan perubahan. Orang itu pun dengan tegas menjawab, “Yes, I will.”

Alhamdulillah, Shamsi bersyukur, sehabis masuk Islam, dua bulan kemudian di bulan bulan pahala ia menelponnya memberitahu bahwa muridnya itu berpuasa dan mencicipi ketenangan.

Setahun kemudian di animo haji, eksekutif Muslim Jamaica Center ini kembali menerima telepon darinya, memberikan bila ia lagi di Maroko untuk melamar calon istrinya.

“Dia rupanya belakang layar mencari jodoh lewat distributor jodoh di internet. Alhamdulillah, teman kita ini sudah berkeluarga dan berbahagia,” paparnya.

Menurut Shamsi, perubahan akan selalu mungkin dilakukan. Apalagi itu yaitu cuilan dari preferensi gaya hidup.

“Saya memang kurang mengerti dengan mereka yang membela homo dan lesbi. Di satu sisi meninggikan ‘kemampuan insan untuk memilih pilihan’. Tapi di sisi lain mereka berargumen seolah kaum homo dan lesbi itu tunduk patuh pada ketentuan lahir. Di dunia ini memang banyak paradoks!” tutupnya.

Kisah Aktual Keajaiban Ayat Bangku Di Amerika Serikat

Kumpulan Doa Islami - Ini merupakan dongeng kasatmata dari Amerika (US) sekitar tahun 2006. Pengalaman kasatmata seorang muslimah asal Asia yang mengenakan jilbab. Suatu hari perempuan ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman. Suasana jalan setapak sepi. Ia melewati jalan pintas.

Di ujung jalan pintas itu, beliau melihat ada sosok laki-laki Kaukasian. Ia menyangka laki-laki itu seorang warga Amerika. Tapi perasaan perempuan ini agak was-was alasannya yaitu sekilas raut laki-laki itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya.

Dia berusaha tetap hening dan membaca kalimah Allah. Kemudian beliau lanjutkan dengan terus membaca Ayat Kursi berulang-ulang seraya sungguh-sungguh memohon pinjaman Allah swt. Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan laki-laki berkulit putih itu, ia tetap berdoa. Sekilas ia melirik ke arah laki-laki itu. Orang itu asyik dengan rokoknya, dan seolah tidak mempedulikannya.

(Pelajari juga: Bacaan Doa Ayat Kursi Bahasa Arab, Latin Lengkap Terjemahannya)


Keesokan harinya, perempuan itu melihat informasi kriminal, seorang perempuan melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam. Dan perempuan itu melaporkan pemerkosaan yang dialaminya di lorong gelap itu. Karena begitu ketakutan, ia tidak melihat terang pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan pintas tersebut.

Hati muslimah ini pun tergerak alasannya yaitu perempuan tadi melintas jalan pintas itu hanya beberapa menit sehabis ia melintas di sana. Dalam informasi itu dikabarkan perempuan itu tidak dapat mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca, dari beberapa orang yang dicurigai polisi.

Muslimah ini pun memberanikan diri tiba ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia dapat mengenali sosok pelaku pelecehan kepada perempuan tersebut, alasannya yaitu ia memakai jalan yang sama sesaat sebelum perempuan tadi melintas.

Melalui kamera rahasia, akibatnya muslimah ini pun dapat menunjuk salah seorang yang diduga sebagai pelaku. Ia yakin bahwa pelakunya yaitu laki-laki yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok .

Melalui interogasi polisi akibatnya orang yang diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannyaa. Tergerak oleh rasa ingin tahu, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi.

Muslimah : “Apa Anda melihat saya? Saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum perempuan yang kauperkosa itu? Mengapa Anda hanya menggangunya tapi tidak mengganggu saya? Mengapa Anda tidak berbuat apa-apa padahal waktu itu saya sendirian?”

Penjahat : “Tentu saja saya melihatmu malam tadi. Anda berada di sana malam tadi beberapa menit sebelum perempuan itu. Saya tidak berani mengganggu Anda. Saya melihat ada dua orang besar di belakang Anda pada waktu itu. Satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda.”

(Pelajari juga: Manfaat dan Keutamaan Membaca Ayat Kursi)

Muslimah itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Hatinya penuh syukur dan terus mengucap syukur. Dengkulnya bergetar mendengar klarifikasi pelaku kejahatan itu, ia eksklusif menyudahi interview itu dan minta diantar keluar dari ruang itu oleh polisi. (source: islampos)

Kisah Mutiah, Perempuan Pertama Penghuni Surga

Kumpulan Doa Islami - Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah perempuan pertama yang memasuki nirwana sesudah Ummahatul Mukminin sesudah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana perempuan yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari isu yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan daerah tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum ya ahlil bait.” Dari dalam rumah terdengar balasan seorang wanita, “Wa’alaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.” Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.

“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan saya untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya saya tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang berdasarkan pedoman Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan pria ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi saya belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku ketika ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok agar saya nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata perempuan mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar menyerupai yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga alhasil Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga jikalau beliau membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan sebab Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah menyampaikan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Semakin gundah hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya perempuan ini menjunjung tinggi pedoman Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu’ kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya tiba ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, beliau terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan amis yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.

Dalam kondisi menyerupai itu, Mutiah menyampaikan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan beliau sedang berkemas-kemas menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja beliau berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah menggunakan pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami menyerupai Mutiah.

Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah tiba kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada ketika Fatimah datang, suami Mutiah gres saja hingga di rumah pulang dari kerja.

Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya semenjak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang higienis untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan oleh Mutiah yaitu memandikan suaminya. Subhanallah… Tsumma Subhanallah.

Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke daerah makan. Dan suaminya sudah disiapkan kuliner dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan kuliner yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan.

“Wahai suamiku, seharian saya telah menciptakan kuliner dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas kuliner yang saya buat, maka cambuklah diriku.”

Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. wacana perempuan pertama penghuni nirwana sesudah para istri Nabi yaitu Mutiah.

Fatimah pulang menangis haru dan senang sebab sudah mendapatkan balasan bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai perempuan yang paling dahulu memasuki nirwana Allah SWT.

Kisah Seorang Nenek Yang Tak Pernah Berhenti Berdoa

Kumpulan Doa Islami - Seorang Dr Ahli Bedah populer (Dr. Ishan) tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri Seminar Dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas inovasi terbesarnya di bidang kedokteran.

Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat.

Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: Saya ini dokter special, tiap menit nyawa insan bergantung ke saya, dan kini kalian meminta aku menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?

Pegawai menjawab: Wahai dokter, kalau anda terburu-buru anda bisa menyewa mobil, tujuan anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan kendaraan beroda empat 3 jam tiba.

Dr. Ishan baiklah dengan seruan pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang menyebabkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Terdengar bunyi seorang perempuan tua: Silahkan masuk, siapa ya? Terbukalah pintunya.

Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam telponnya. Ibu itu tersenyum dan berkata: Telpon apa Nak? Apa anda tidak sadar ada dimana? Disini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar aku buatkan teh dan sedikit masakan utk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan anda.

Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, kemudian memakan hidangan. Sementara ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak diatas kasur disisi ibu tersebut, dan ia terlihat gelisah diantara tiap sholat. Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan do’a yang panjang.

Dokter mendatanginya dan berkata: Demi Allah, anda telah membuat aku kagum dengan keramahan anda dan kemuliaan adat anda, semoga Allah menjawab do’a-do’a anda.

Berkata ibu itu: Nak, anda ini yakni ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan do’a-do’a aku sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu.

Bertanya Dr. Ishan: Apa itu do’anya?

Ibu itu berkata: Anak ini yakni cucu saya, ia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada disini. Mereka berkata kepada aku ada seorang dokter jago bedah yang akan bisa menyembuhkannya; katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi ia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan aku membawa anak ini ke sana, dan aku khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya aku berdo’a kepada Allah biar memudahkannya.

Menangislah Dr. Ishan dan berkata sambil terisak: Allahu Akbar, Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh do’a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki usang serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, Hanya untuk mengantarkan aku ke ibu secara cepat dan tepat. Saya lah Dr. Ishan Bu, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah membuat alasannya yakni menyerupai ini kepada hambaNya yang mukmin dengan do’a.

Ini yakni perintah Allah kepada aku untuk mengobati anak ini.

Kisah Kasatmata Cewek Sma Kehilangan Keperawanannya Yang Ingin Bunuh Diri

Kumpulan Doa Islami - Setiap orang niscaya punya kisah yang kelam dan meninggalkan rasa trauma yang mendalam. Butuh keberanian besar untuk mau terbuka membicarakan kisah pilu yang pernah dialami. Apalagi kalau itu menyangkut keperawanan. Dilansir dari laman vemale, seorang perempuan ini mencoba membagikan kisahnya wacana keperawanannya yang direnggut oleh seorang laki-laki tak bertanggung jawab. Dan ia punya sebuah pesan yang bisa jadi pelajaran untuk kita semua...

Salam,
Saya akan menceritakan pengalaman pahit hidup saya yang menciptakan saya terpuruk dalam dunia hitam. Semoga ada pelajaran yang bisa Anda petik dari kisah pilu saya ini.

Saya dilahirkan oleh keluarga yang sangat sederhana. Sebenarnya saya anak yang tidak dibutuhkan lantaran ibu saya sudah berusia 40 tahun ketika mengandung saya. Bahkan ketika itu ia tidak tahu kalau sedang mengandung. Saya lahir prematur dan sempat menciptakan orang-orang menangis lantaran kesehatan ibu saya yang sangat lemah ketika itu.

Saya memiliki keluarga yang tidak harmonis. Orang renta saya sering ribut dengan abang laki-laki saya. Saya merasa sangat terkekang sehingga menciptakan saya merasa tidak bebas menyerupai anak lainnya.

Saya mengenal cinta ketika menginjak kursi SMA. Memang saya akui wajah saya yang manis dengan postur badan yang mungil menciptakan banyak laki-laki mengagumi saya. Saya terlena dan bahkan salah langkah.

Saya kesudahannya mengenal seorang laki-laki yang lalu saya tahu bahwa ia yaitu orang bejat yang tak bertanggung jawab. Dia merenggut kesucian saya. Hidup saya sangat hancur. Saya sangat tertekan dan merasa tak ada impian lagi untuk hidup. Sejak ketika itu, saya berubah drastis jadi anak yang sangat pendiam di rumah.

Masalah-masalah gres pun bermunculan. Kondisi keluarga saya tak stabil, situasi ekonomi sedang kritis. Saya pun begitu tolol ketika saya menceritakan dilema hilangnya keperawanan saya kepada seseorang yang tadinya begitu saya percaya. Bukannya menjaga rahasia, ia malah membeberkan malu saya sampai satu sekolahan semua tahu. Saya diejek, dibilang pelacur. Ya Allah, kenapa mereka begitu kejam? Mereka bilang saya menjual harga diri saya sendiri. Oh, betapa hinakah saya di mata mereka?

Saya berusaha sabar. Hingga usang kelamaan mereka berhenti mengejek saya. Terkadang saya sering menangis kenapa hidup ini begitu rumit. Tapi ternyata masih ada dilema gres yang menciptakan saya tertekan. Saya makin frustrasi ketika tahu laki-laki yang telah merenggut kesucian saya menikah dengan teman abang perempuan saya. Dari ijab kabul mereka, lahirlah seorang anak perempuan. Namun, ijab kabul itu kandas di tengah jalan lantaran laki-laki tersebut tidak bertanggung jawab kepada istrinya.

Namun, Allah masih berbaik hati. Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengan seorang laki-laki tampan, baik, dan setia. Saya sangat nyaman bersamanya. Ia juga mencicipi hal yang sama.

Suatu hari, laki-laki baik hati itu meminang saya. Saya begitu senang lantaran ia mau mendapatkan saya dengan segala kekurangan saya, meskipun saya sudah tak perawan lagi. Dia hanya ingin mengakibatkan saya sebagai istri sholehah yang bisa jadi ibu untuk belum dewasa kami kelak. Saya pun ingin menjadi eksklusif yang jauh lebih baik kelak.

Saya sangat bersyukur lantaran di balik cobaan yang disebabkan oleh kesalahan saya sendiri, Allah masih memperlihatkan kemurahan hati-Nya. Dulu saya sempat ingin bunuh diri lantaran tertekan dan malu. Beruntung masih ada seorang teman yang mau mengingatkan saya bahwa ini bukan final dari segalanya. Allah tidak akan menawarkan cobaan di luar kemampuan umat-Nya.

Kini, saya sudah menikah dengan laki-laki baik hati tersebut. Saya senang dan begitu terharu. Meskipun dulu saya sempat terperosok ke jurang hitam, saya masih bisa menemukan cahaya di masa depan saya. Saya hanya ingin memberikan pesan betapa berbahayanya pergaulan bebas lantaran bisa merusak diri kita sendiri. Dan jangan merasa lemah ketika kita punya dilema besar lantaran Allah SWT tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan kita.

Kisah ini yaitu kisah positif saya sendiri. Semoga kita semua bisa mengakibatkan hidup kita ini jauh lebih baik dari sebelumnya. (Sumber: vemale.com)

Kisah Islami, Cinta Sejati Yang Berawal Dari Kebencian (Sangat Inspiratif)

Kumpulan Doa Islami - Tumbuh besar di Amerika, Anda akan menemukan nilai-nilai kristiani yang tersembunyi dan secara turun temurun bertahan di lingkungan masyarakat. Namun agama tidaklah kuat cukup besar dalam keseharian mereka. Sejak kecil, Nenek selalu mengajakku ke gereja di tamat pekan yang biasanya diisi dengan pelajaran Alkitab rutin dan begitu juga kemah demam isu panas. Seiring dengan bertambahnya usiaku, keterlibatanku di gereja pun semakin berkurang, waktuku kuhabiskan di sekolah, acara olahraga, dan sebagainya. Aku selalu menonjol di bidang matematika dan sains selama masa sekolah, dan saya sangat tertarik dalam bidang tersebut.

Semasa Sekolah Menengan Atas kuputuskan untuk meninggalkan agama sepenuhnya dan kemudian menjadi seorang atheis, khususnya sehabis berdiskusi ihwal beberapa hal dengan salah seorang guruku, yang sangat teguh dengan keyakinan atheisnya. Walaupun masih duduk di kursi SMA, dan umur yang masih 17 tahun, saya masuk militer. Saat itu nyatanya keputusan yang saya ambil tidak bertahan lama, pada masa itu juga imanku terasa diperbaharui, untuk menjadi umat kristiani yang terlahir kembali. Apabila kita meninjau kembali argumen yang sesungguhnya dari kaum Atheis, ihwal tidak adanya Tuhan, maka kita akan tahu ini ialah argumen yang dangkal. Pada ketika mereka menuduh kepercayaan akan adanya Tuhan ialah sangat tidak logis, di ketika itu pula realita akan sains dan alam semesta memperlihatkan fakta yang sebaliknya. Setelah melalui perjalanan pemikiran ini, kesudahannya saya pun kembali membaca Alkitab tiap hari. Mulai aktif beribadah dan benar-benar menjadi religius.

Musim panas berlalu, kejadian 9/11 pun terjadi. Di seluruh informasi dan di setiap perkumpulan, semua orang selalu membicarakannya, ihwal muslim yang mempercayai bahwa semakin banyak orang kafir yang ia bunuh, maka semakin sepakat tempatnya di surga. Hal ini sudah cukup menjadi alasan, bahwa tidak masuk nalar kalau ada orang yang tertarik atau bahkan terbesit impian untuk mengetahui betapa “kejam”nya agama ini. Banyak orang yang kemudian berhenti pada titik ini, menumbuhkan rasa benci buta akan Islam, sebagaimana pula aku. Yah saya ialah selayaknya orang kulit putih militer Amerika, dengan kebencian yang sangat kuat terhadap Islam dan muslim. Semua ini berlanjut selama berbulan-bulan, dan kian mengeras oleh pemberitaan non-stop dari media ihwal seluruh kejahatan Islam.

Tiga bulan berlalu ketika salah satu guru kami menciptakan penawaran, barang siapa diantara para muridnya yang sanggup menghasilkan proyek asli dan cukup unik, maka otomatis akan dinyatakan lulus dari kelas yang ia ampu, hal ini disengaja untuk memancing kreativitas kami. Berkaitan dengan topik yang masih hangat, saya menentukan menciptakan game ihwal mencari dan membasmi Osama bin Laden, dan kesudahannya berhasil menuntaskan proyek ini lebih awal.

Karena deadline proyek ini masih ada seminggu lagi sehabis liburan natal, maka saya berkesempatan untuk menambahkan beberapa detil di masa liburan. Salah satunya ialah detil berupa turban Osama bin Laden yang terbakar api. Namun ketika saya mencari gambar-gambar pendukung fitur ini melalui Google, tanpa sengaja kutemukan beberapa artikel yang membuka pandanganku ihwal Islam.

Masih teringat salah satu judul artikel yang kubaca ketika itu, ihwal bagaimana muslim percaya akan Nuh, Ibrahim, Musa, Yesus dan para nabi lainnya yang sebelumnya sudah saya kenal semenjak kecil sebagai umat kristiani. Kisah-kisah ini ialah santapan harianku selama masih mencar ilmu Injil. Sebagai hamba kristen yang taat hal ini menarik perhatianku, bagaimana sanggup mereka percaya dengan para nabi namun tidak menjadi kristiani?.

Proyek game yang sedang dikerjakan pun kusisihkan, yang pada kesudahannya tidak pernah kusentuh lagi akhir sibuk dengan membaca artikel dan buku-buku. Kesibukan baruku ini terperinci lebih baik dari pada para media dan informasi yang menciptakan sensasi akan kebencian kami terhadap apa yang telah dilakukan oleh satu atau dua orang muslim. Tiap kali saya terbangun dari tidur, maka bacaan-bacaan agama kerap menemaniku sampai-sampai saya terlelap di tengah membaca. Rutinitas gres ini terus berulang selama masa liburanku itu.

Sangat menarik yang saya temukan di masa pencarianku melalui buku-buku itu, bahwa kalau seseorang berkeinginan untuk menjadi pribadi yang religius serta membangun kekerabatan dengan Tuhannya, maka pada umumnya ia akan mulai dari apa yang ia tahu dan menjadi pembela pedoman apapun dimana ia dibesarkan. Walaupun pedoman itu belum tentu mewakili kebenaran yang dicarinya. Untuk menjadi seorang kristiani yang sesungguhnya, saya butuh melihat lebih dalam ihwal Islam dan agama lainnya. Sehingga pilihanku terhadap kristiani tidak hanya berdasar pada keyakinan bawaan semata.

Dalam sejarah awal masa-masa kristiani, kutemukan bahwa nilai dan pedoman asli Yesus bukanlah pedoman yang ditaati dan dipraktekkan oleh gereja, bahkan gereja menstandarisasi kepercayaan mereka sembari aben apapun (dan siapapun) yang menentang mereka. Aku terinspirasi bahwa semua ini ialah jalan kehendak dari Tuhan yang selalu Ia Lakukan, dalam rangka menyelamatkan kemurnian agamaNya dan kesucian ajaranNya melalui rasul-Nya, yaitu Muhammad yang lahir pada tahun 571 Masehi, ratusan tahun sehabis majelis yang dimulai di Nicaea pada 325 M. Majelis yang sama yang melahirkan suatu ajaran, yang lebih kita kenal sebagai pedoman kristiani.

Quran pun coba kupelajari dan begitu juga dengan fakta bahwa ia belum pernah diubah-ubah, tidak satu aksara pun!. Ini informasi yang luar biasa sebagai seorang penganut kristiani,mengingat sugesti yang menimpa kami menekankan bahwa “roh kudus” sendirilah yang membimbing para penulis dan penyusun Injil. Sejarah menyangkal dan memperlihatkan bahwa Alkitab telah diubah dan dirusak, bahkan tidak ada manuskript asli yang sanggup dijadikan bukti dan konstribusi berarti. Berbeda dengan Injil, Quran mengatakan kesan interaksi pribadi dengan Tuhan, bahasa asli yang berasal dari Tuhan itu sendiri, inilah yang kurasakan ketika membacanya. Bukan dari orang yang melihat orang lain melaksanakan sesuatu, yang kemudian memberitahukannya kepada orang yang lainnya lagi, yang selanjutnya menulis surat kepada seseorang, sehingga disusunlah sebuah buku berasal dari surat-surat tersebut, dimana manuskript asli surat-surat itu sekarang telah hilang, dan buku itu kesudahannya dibaca sebagai dongeng narasi yang seakan dituturkan oleh pelakunya langsung.

Quran di pihak lain ialah asli Kata-Kata Tuhan, seakan Ia sendiri yang menuturkannya padaku. Sebagai suplemen saya pun menyimak sejarah akan banyak sekali mukjizat yang benar-benar terjadi serta ramalan ihwal Muhammad dan Alquran.

Setelah melalui proses awal pencarian dan banyak membaca, timbul impian untuk menemui seorang muslim dan membahas ihwal apa yang kutemukan dalam Islam. Aku tidak pernah bertemu dengan seorang muslim sebelumnya, maka segera kucari tahu ihwal masjid yang ada, namun tidak ada satu masjidpun yang bersahabat dengan daerah saya tinggal. Aku pun mulai memanfaatkan internet dan chatting dengan para muslim melalui ruang chat IRC.

Aku sempat berdialog dengan muslim dari Asia, Eropa, bahkan para mu’allaf Spanyol yang tinggal di Amerika. Kutemukan beberapa detail dari keyakinan akan Islam melalui banyak sekali obrolan ini, hingga saya sama sekali tak sanggup memungkiri lagi akan kebenaran yang sungguh sangat terperinci terlihat.

Status sebagai muslim belum kupegang, namun telah banyak keraguan yang membisiki telingaku “tapi kan kau bukan orang Arab, Islam hanya untuk orang Arab” atau “apa kata teman-teman dan keluargamu nanti, apalagi sehabis 9/11” dan seterusnya. Ini semua hanyalah gangguan dan riak kecil yang tidak ada hubungannya dengan bersikap jujur untuk mengikuti kebenaran Tuhan. Sehingga bisikan-bisikan itu pun kesudahannya hilang dengan sendirinya. Aku ialah seorang muslim sehabis bersaksi seorang diri di dalam kamarku “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad ialah hamba dan utusan Allah” dan melanjutkan mencar ilmu melalui internet, online bersama muslim yang lain.

Salah satu dari beberapa muslim yang saya temui di internet berjulukan Joseph. Beliau juga warga Amerika kulit putih yang telah pensiun dari 20 tahun masa pengabdiannnya di angkatan laut. Ia cukup kaget sehabis mendengar saya belum pernah bertemu pribadi dengan satu orang muslim pun, seketika itu ia menyetir mobilnya untuk menemuiku dengan menempuh perjalanan darat 7 jam lamanya. Kami makan siang bersama, dan ia menghadiahkan beberapa buku kepadaku. Karena ia harus bekerja kembali esok hari, maka ia pulang di hari itu juga menempuh 7 jam perjalanan darat yang sama. Persaudaraan instan yang bermetamorfosis di antara dua orang pengikut kebenaran Tuhan, ialah keunikan tersendiri dalam Islam yang akan sulit dimengerti oleh orang lain, segala puji hanya bagi Allah (Alhamdulillah).

Alhasil kondisi keislamanku kusampaikan kepada teman-teman dan keluarga, respons yang kuterima sudah sesuai menyerupai yang saya duga. Kebanyakan dari mereka berlepas tangan dan tidak mau terlibat lagi dengan keputusan yang saya ambil, bahkan keluargaku sendiri menyebut saya teroris dan sebutan lain yang lebih jelek lagi. Namun ini semua hanyalah kesalahpahaman yang mereka telan dari hasil didikan media. Berdasarkan info dari Joseph dan muslim yang lain, saya berangkat menuju Virginia dengan bis untuk mengunjungi kota berkomunitas muslim yang lebih besar dan beberapa masjid yang besar pula.

Kejadian selanjutnya ialah latihan militer dasar yang kuikuti selama empat bulan. Latihan ini dilaksanakan pada liburan demam isu panas pertama sehabis 9/11, yang menjawab alasan dan motivasi sebahagian penerima training ketika itu ialah alasannya ialah kebencian mereka kepada para muslim. Tentunya ini ialah pengalaman yang “unik” bagiku sebagai satu-satunya muslim di satuan kompi training militer kami di tahun itu. Lika-liku di kamp training ini sangat banyak, namun cobaan apapun yang kita tempuh selama itu masih dalam koridor syari’at Allah dan dengan tetap bersabar, maka ini hanyalah semakin menambah keimanan kita.

Aku pun kembali dari training militer, dan sebahagaian besar keluargaku berharap hal ini akan “memperbaiki” keadaanku. Tapi yang ada hanyalah kekecewaan alasannya ialah melihat saya masih tetap seorang muslim. Sebuah masjid kecil saya temukan di area daerah tinggalku, namun jamaah yang aktif hanya dua orang saja. Aku pun sempat pindah dari rumah menginap di mobilku sendiri selama beberapa hari, hingga kesudahannya seorang kenalan saudara muslim dari Virginia mengajakku untuk pindah bersamanya. Aku pun pindah ke Virginia dan memperoleh kesempatan mencar ilmu Islam lebih mendalam dan menjadi bab dari komunitas masyarakat.

Sejak ketika itu saya mulai mencar ilmu Islam secara formal maupun non formal kepada banyak para pengajar Islam ditambah lagi dengan bahan perbandingan agama. Di masa kemudian semakin dalam saya mencar ilmu ihwal pedoman kristiani, semakin lemah pula dogma yang saya punya. Sebaliknya dengan Islam, bertambahnya pengetahuanku hanya akan meningkatkan dogma dan membuka cakrawala akan kesempurnaan Tuhan serta agama-Nya yang murni yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Ketika kesalahpahaman terhadap Islam mengisolir pandangan sebahagian orang, di sisi lain Islam ialah pedoman yang sempurna, sistem yang lengkap, jalan hidup yang paripurna. Islam mengatakan petunjuk dan bimbingan moral, etika, nilai-nilai spiritual, dan tatanan sosial.

Kisah Nabi Dan Sahabatnya Di Bulan Sya'ban

Kumpulan Doa Islami - Kisah berikut ini dihimpun dari aneka macam sumber, sebagaimana dilansir dari laman islampos. Alkisah, Pada suatu waktu sahabat Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW:
“Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban?

Rasulullah SAW, menjawab:
“Itu bulan dimana insan banyak melupakannya, yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu segala perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka saya ingin dikala amalku diangkat, saya dalam keadaan puasa”. (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah az Zahidiy bahwa beliau berkata: Kawan saya Abu Hafshin al Kabir telah meninggal dunia, maka saya menyalatinya. Dan saya tidak mengunjungi kuburnya lagi selama delapan bulan. Kemudian saya bermaksud menengok kuburnya.

Ketika saya tidur di malam hari, saya bermimpi melihatnya, mukanya menjelma pucat. Saya bersalam kepadanya dan beliau tidak membalasnya. Kemudian saya bertanya kepadanya: “Subhanallah, mengapa engkau tidak menjawab salam saya?”

“Membalas salam ialah ibadah, sedang kami sekalian telah terputus dari ibadah,” jawabnya.

“Mengapa saya melihat wajahmu berubah, padahal sungguh engkau dulu berwajah bagus?” tanya saya.

Dia menjawab: “Ketika saya dibaringkan di dalam kubur, telah tiba satu malaikat dan duduk di sebelah kepala saya seraya berkata: “Hai si bau tanah yang jahat!,” kemudian beliau menghitung semua dosa saya dan semua perbuatan saya yang jahat, bahkan beliau memukul saya dengan sebatang kayu sehingga tubuh saya terbakar.

Kubur pun berkata kepada saya: “Apakah engkau tidak aib kepada Tuhanku?”, kemudian kubur pun menghimpit saya dengan himpitan yang berpengaruh sekali sehingga tulang rusuk saya menjadi bertebaran dan sendi-sendinya menjadi terpisah-pisah, siksaan itu berlangsung hingga malam pertama bulan Sya’ban.

Waktu itu ada bunyi mengundang dari atas saya: “Hai malaikat, angkatlah batang kayumu, dan siksamu dari padanya, alasannya gotong royong beliau pernah menghidup-hidupkan satu malam dari bulan Sya’ban selama hidupnya dan pernah berpuasa pula satu hari di bulan Sya’ban.”

Maka Allah SWT menghapuskan siksa dari padaku alasannya saya memuliakan malam hari di bulan Sya’ban dengan shalat dan juga dengan puasa satu hari di bulan Sya’ban. Kemudian Allah memberi kegembiraan kepadaku dengan nirwana dan kasih sayang-Nya.

Menurut Imam Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arob, makna kata Sya’ban ialah dari lafadz ‘Sya’aba’ atau berarti ‘dhoharo’ (tampak) diantara dua bulan mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan.

Beginilah Siksaan Kubur Bagi Orang-Orang Pelit

Kumpulan Doa Islami - Salam sejahtera, supaya kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT. Amin. Pada kesempatan ini Kumpulan Doa Islami akan menyebarkan kisah kisah yang mungkin dapat kita ambil hikmahnya. Dimana kisah ini mengisahkan ihwal siksaan orang yang pelit ketika sakaratul maut bahkan hingga ia di kubur.

Seperti diketahui, bahwa orang pelit atau bakhil tentu sangat tidak menyenangkan bagi orang lain. Maka sudah jelas-jelas sifat tersebut tidak baik. Rasulullah pernah mensabdakan, salah satu diantara tiga hal yang membinasakan ialah pelit alias bakhil.

“Tiga masalah yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. Thabrani)

Sebelum lebih jauh membaca kisah kisah Siksaan Kubur bagi Orang-orang Pelit yang akan kami share ini, terlebih dahulu marilah kita saksikan sebuah cuplikan video berikut ini yang menceritakan juga ihwal orang pelit (matinya tidak ada yang ngubur).... Berikut videonya.


Oke marilah kita lanjut ke kisah orang pelit berikut ini menyerupai dikisahkan oleh Ust. Nasruddin, Lc sebagaimana dikutip dari laman Bersamadakwah.net

Al-Kisah ..........
Syaikh Manna’ Al Qaththan pernah menyaksikan betapa perilaku pelit telah menciptakan seseorang binasa dan mendapat siksa kubur yang mengerikan.

Syaikh Manna’ Al Qaththan ialah seorang ulama Arab Saudi yang cukup terkenal. Beliau pernah menjadi Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh dan berpengalaman sebagai dosen di universitas Islam. Beliau juga dikenal sebagai pakar ulumul Qur’an dengan karya monumentalnya, Mabahits fi Ulum al-Qur’an.

Saat masih remaja, Syaikh Manna’ Al Qaththan pernah menjadi seorang anak yang ‘nakal’. Gara-gara ‘kenakalan’ itulah dia mengalami kisah yang luar biasa ini.

Di salah satu kampung, ada seorang kaya raya yang populer sangat pelit. Meskipun uangnya sangat banyak dan hartanya melimpah, ia tidak mau peduli dengan orang-orang sekitarnya. Ia tidak mau menyantuni para dhu’afa’, tidak pula mau menyebarkan kepada tetangganya.

Sampai suatu hari ia jatuh sakit. Para tetangga yang tahu betul betapa pelitnya dia, tak mau menjenguk dan membantunya. Jadilah ia sengsara sendirian. Sakit dirasakan seorang diri, tanpa ada yang mau mengunjungi dan mau peduli. Hanya satu orang yang mau ke sana dan akrab dengannya, yakni Manna’ Al Qaththan muda.

Karena peduli dengannya, Manna’ jadi tahu apa saja yang dilakukan oleh orang kaya itu dan bagaimana sifat bakhil telah membutakan nalar pikirannya. Dalam kondisi sakit, si kaya itu menelan satu per satu uang-uangnya yang berbentuk koin. Ia tak mau hartanya itu jatuh ke tangan orang lain. Ia mau membawanya mati. Agaknya, ia juga ingin mempercepat sakaratul maut.

Dan terjadilah hari itu. Ketika janjkematian menjemputnya, orang-orang heran dengan berat jenazahnya dikala hendak dimakamkan. “Orang ini tidak gemuk tapi kok berat sekali ya,” kata orang-orang. Manna’ Al Qaththan yang tahu rahasianya hanya diam.

Seperti orang lain, ia pun pulang sehabis ikut memakamkan mayat orang kaya tersebut. Malamnya ia kembali ke pemakaman. Ia bongkar makam orang kaya itu, kemudian ia bedah perutnya. Rupanya ia ingin mengambil koin-koin berharga itu. Namun betapa terkejutnya ia, ketika ia menyentuh koin tersebut, ia mencicipi menyerupai tersengat listrik dengan sengatan yang hebat. Ia gagalkan niat itu dan ia tutup kembali kuburnya.

Beberapa tahun kemudian, sehabis bertaubat, Syaikh Manna’ Al Qaththan gres menceritakan kisah itu. “Kadang-kadang,” kata dia berkisah, “setrumnya masih terasa.”

Na’udzubillah Min Dzaalik. Semoga kita semua bukan termasuk orang-orang yang pelit, melainkan tergolong ke dalam orang-orang yang dermaawan. Amin..... Semoga bermanfaat.

(Inspiratif) Cerita Suami Istri Beda Agama Memiliki 4 Anak, 2 Islam, 2 Kristen

Kumpulan Doa Islami - Berikut kami share kisah suami istri beda agama yang tetap langgeng meski puluhan tahun menikah. Kisah pasutri beda keyakinan ini biar dapat menginspirasi bagi para pembaca semua, sebetulnya berbeda keyakinan itu tidak harus putus hubungan. Dan inilah dongeng selengkapnya menyerupai dilansir dari laman JPNN.

Kehidupan rumah tangga Daniel J Bunggulawa-Misrat yang dibina semenjak 1982, masih romantis. Pasangan suami istri di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara itu saling memperhatikan dan melayani satu sama lain, meski keduanya berbeda agama.

Bagi Daniel dan Misrat, membina rumah tangga bukanlah perkara sulit yang harus dilakoni. Daniel merupakan pemeluk Kristen Katolik. Sedangkan sang istri, Misrat merupakan seorang muslimah. Meski membina rumah tangga dengan keyakinan yang berbeda tidak menciptakan kekerabatan keduanya renggang, melainkan keduanya menunjukkan kemesraan di dalam bulan suci bulan berkat tahun ini.


"Semua agama menunjukkan berkah tersendiri bagi yang menjalankan. Saya membangunkan istri untuk berpuasa (sahur). Bahkan jikalau Idulfitri keluarga istri yang muslim bersilaturahmi ke rumah," kata Daniel, kepada Kendari Pos yang berkunjung ke kediamannya, di kompleks perkantoran Bupati Konut.

Pasangan yang dikarunia empat orang anak itu menjelaskan bahwa di dalam keluarga, rasa toleransi yang tinggi selalu ditanamkan. Anak pertama dan anak ketiga mereka, mengikuti keyakinan sang ayah. Sementara anak kedua dan keempat mengikuti keyakinan sang istri.

"Ketika Idulfitri kami selalu berkumpul. Begitupun juga sebaliknya hari besar keagamaan saya. Istri selalu menyiapkan apa yang menjadi kebutuhan di dalam rumah," tandasnya.

Kemesraan yang diasakan selama bulan bulan berkat dan Hari Raya Idul Fitri juga dirasakan ketika Hari Raya Natal. “Kami semua terlibat dalam suasana suka cita,” ujar Daniel.

Kisah Sobat Nabi, Permohonan Maaf Paling Indah Yang Menyentuh Hati

Kumpulan Doa Islami - Sangat manusiawi apabila kita berbuat salah. Namun kesalahan yang paling fatal yaitu kita tidak mau dan tidak ingin meminta maaf. Semoga kita semua termasuk orang-orang pemaaf dan selalu meminta maaf ketika berbuat salah. Amin....

Berbicara wacana salah dan maaf, berikut kami punya sedikit kisah yang patut kita ketahui, patut kita ambil hikmahnya alasannya kisah kisah ini dari sahabat Nabi dan tentunya sangat menginspirasi bagi kita semua. Berikut yaitu kisa selengkapnya sebagaimana kami kutip dari laman Islam Pos:

AL-KISAH. Para sahabat tengah berkumpul disebuah majlis, waktu itu Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ tidak bersama mereka. Ada Khalid Bin Walid, Ibnu ‘Auf, Bilal dan Abu Dzar di Majlis itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu, kemudian Abu Dzar mengemukakan pendapatnya dan berkata,

“Menurutku… Pasukannya mestinya begini dan begitu.”

Bilal menyanggah, “Tidak, ajuan yang keliru.”

Abu Dzar membalas, “Engkau juga wahai anak orang yang berkulit hitam menyalahkanku!?”

Bilal kemudian berdiri, murka dan menyesalkan perkataan sahabatnya, beliau kemudian berkata,

“Demi Allah… Aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ”

Bilal datang dihadapan Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ sambil mengadu,

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar padaku?”

Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ bertanya,

“Apa yang beliau katakan padamu?”

Bilal menjawab, “Dia menyampaikan begini dan begitu…”

Wajah Rasulullah kemudian berubah.

Abu Dzar mendengar hal ini. Dia bergegas ke masjid dan menyapa Rasulullah ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ,

“Assalamu Alaikum warahmatullah wabarakatuh, Ya Rasulallah.”

Rasulullah menjawab, “Wahai Aba Dzar, apa dengan ibunya engkau menta’yirnya (menjelekkannya)? Sungguh pada dirimu ada kejahiliyaan.”

Abu Dzar sontak menangis, beliau mendekat ke Rasulullah dan berkata,

“Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah semoga mengampuniku.”

Sambil menangis, beliau keluar dari masjid menemui Bilal yang sedang berjalan. Dia kemudian membaringkan kepalanya hingga pipinya melekat ketanah dan berkata,

“Wahai Bilal. Demi Allah, saya tak akan mengangkat kepalaku hingga engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkau yaitu orang yang mulia dan saya orang yang hina!”

Hal ini menciptakan Bilal menangis. Dia mendekati sahabatnya, mencium pipinya dan berkata,

“Demi Allah, saya tak akan menginjak wajah yang pernah sujud kepada Allah.”

Mereka berdua kemudian berdiri, berpelukan sambil menangis.

Adapun hari ini. Iya, hari ini. Sebagian diantara kita menyakiti saudaranya 10 kali dan beliau tak mengatakan, “Maafkan aku, wahai saudaraku.”

Sebagian diantara kita mencela saudaranya, melukai prinsip dan hal yang paling berharga pada diri saudaranya dan beliau tak menyampaikan “Maafkan aku.”

Sebagiannya lagi melanggar kehormatan saudaranya, dan mendzhaliminha tapi aib menyampaikan “Aku menyesalinya.”

Dan diantara kita ada yang menyakiti saudara dan temannya dengan tangannya tapi aib menyampaikan “Aku menyesalinya.”

Meminta maaf merupakan tradisi orang yang mulia, meski sebagian menganggapnya menghinakan diri.

Semoga Allah memaafkan kita semua. Dan kami meminta maaf kepada semua yang pernah tersakiti dengan perkatan ataupun perbuatan kami.

“Tak ada kebaikan pada diri kita bila kita meninggal dalam keadaan belum saling memaafkan.”

Itulah sedikit kisah yang sanggup kami share pada kesempatan ini, semoga sanggup bermanfaat bagi para pembaca semua. Tidak lupa kami juga memohon maaf kepada para pengunjung setia maupun pengunjung gres blog khusus doa, alasannya selama kami menyebarkan isu lewat blog ini niscaya ada kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Untuk itu kami mohon kepada semuanya untuk keikhlasannya membuka pintu maaf, apalagi ketika ini masih di nuansa idul fitri. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Kisah Usman Bin Affan Sobat Nabi Yang Mempunyai Rekening Bank

Kumpulan Doa Islami - Mungkin dari kalian sudah ada yang tahu bahkan belum tahu sama sekali kalau salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW mempunyai Rekening Bank di Arab Saudi. Beliau ialah Sahabat Usman Bin Affan. Seperti yang kita ketahui, bahwa Utsman bin Affan dikenal sebagai seorang pebisnis yang kaya raya, dermawan, dan murah hati. Tak heran kalau Khalifah Utsman bin Affan ketika ini mempunyai rekening di salah satu bank di Arab Saudi. Tidak hanya itu, bahkan tagihan listrik dan pajak atas sejumlah properti menyerupai hotel juga masih atas nama yang sama.

Lalu bagaimana kisahnya sehingga Ustman bin Affan mempunyai sejumlah properti di Arab Saudi?

Dilansir Madinatul Quran, diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Kota Madinah pernah mengalami panceklik sampai kesulitan air bersih. Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Mekah. Satu-satunya sumber air yang tersisa ialah sebuah sumur milik seorang Yahudi, yaitu Sumur Raumah. Rasa airnya menyerupai dengan sumur zam-zam. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antre dan membeli air higienis dari Yahudi tersebut.

Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda :
“Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk sanggup membebaskan sumur itu, kemudian menyumbangkannya untuk umat, maka akan menerima surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).


Mendengar hal itu, Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan Sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka saya tidak mempunyai penghasilan yang sanggup saya peroleh setiap hari,” demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.

Utsman bin Affan yang ingin sekali mendapatkan akhir pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini. “Bagaimana kalau saya beli setengahnya saja dari sumurmu,” Utsman melancarkan jurus negosiasinya.

“Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.

“Begini, kalau engkau baiklah maka kita akan mempunyai sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” terang Utsman.

Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi baiklah mendapatkan anjuran Utsman tadi dan disepakati pula hari itu juga separuh dari Sumur Raumah ialah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.

Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di Sumur Raumah, untuk mengambil air dengan gratis alasannya hari ini sumur Raumah ialah miliknya. Seraya ia mengingatkan biar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, alasannya esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.

Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, alasannya penduduk Madinah masih mempunyai persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata, “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama menyerupai engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, kemudian dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman seutuhnya.

Kemudian Utsman bin Affan mewakafkan Sumur Raumah, semenjak itu sumur Raumah sanggup dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.

Rupanya Sumur Raumah masih sanggup dimanfaatkan sampai kini ini. Bahkan di sekitar sumur, ditumbuhi pohon kurma sampai mencapai 1550 pohon. Kebun kurma itu sampai ketika ini dikelola oleh Departemen Pertanian Saudi. Separuh hasil dari penjualan kurma disimpan dan ditabung dalam rekening bank atas nama Utsman bin Affan di bawah pengawasan Departemen Pertanian. Sedangkan separuhnya disumbangkan untuk anak yatim dan fakir miskin.

Kisah Penyesalan Sahabat Rasulullah Ketika Sakaratul Maut

Kumpulan Doa Islami - Seorang sahabat Rasulullah SAW, Sya’ban ra mempunyai kebiasaan unik. Dia tiba ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiapa shalat berjamaah dan I’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid alasannya ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melaksanakan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.

Pada suatu pagi, ketika shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW merasa heran alasannya tidak mendapati Sya’ban ra pada posisi menyerupai biasanya. Rasul pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihat Sya’ban ra.

Shalat Subuh pun sengaja ditunda sejenak, untuk menunggu kehadiran Sya’ban. Namun yang dinantikan belum tiba juga. Karena khawatir shalat Subuh kesiangan, Rasulullah pun tetapkan untuk segera melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Hingga shalat Subuh selesai pun Sya’ban belum tiba juga.

Selesai shalat Subuh Rasul pun bertanya lagi “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Rasul pun bertanya lagi “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?” Seorang sahabat mengangkat tangan dan menyampaikan bahwa dia tahu persis dimana rumah Sya’ban.

Rasulullah sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya tersebut, memimnta diantarkan ke rumah Sya’ban. Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu usang terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.

Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat hingga di rumah Sya’ban pada waktu shalat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya’ban, dia mengucapkan salam dan keluarlah perempuan sambil membalas salam.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Tanya Rasulullah.

“Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” jawab perempuan tersebut.

“Bolekah kami menemui Sya’ban ra, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” ucap Rasul.

Dengan berlinangan air mata, istri Sya’ban ra menjawab “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid ialah alasannya kematian menjemputnya. Beberapa ketika kemudian, istri Sya’ban ra bertanya “Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.

“D imasing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban.

Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: “Sesungguhnya kau berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

“Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak sanggup disaksikan yang lain. Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalatb berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah.

Dia melihat menyerupai apa bentuk nirwana yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam belahan kalimat berikutnya Sya’ban ra melihat ketika ia akan berangkat sholat berjamaah di ekspresi dominan dingin.

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin hambar yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia menggunakan dua baju, Sya’ban menggunakan pakaian yang anggun (baru) di dalam dan yang buruk (butut) di luar.

Dia berpikir kalau kena bubuk tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan hingga di masjid dia sanggup membuka baju liuar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar kemudian dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid supaya sanggup melaksanakan shalat Subuh bersama-sama.

Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melaksanakan shalat berjamaah. Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya nirwana yang sebagai tanggapan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja sanggup mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapat yang lebih besar kalau dia memperlihatkan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukurang roti Arab (sekitar tiga kali ukuran rata-rata roti Indonesia). ketika gres saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti alasannya sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia kemudian membagu dua rotu tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan nirwana yang indah.

Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memperlihatkan semua roti itu kepada pengemis tersebut, niscaya dia akan mendapat nirwana yabg lebih indah. Masya Allah, Sya’ban bukan meratapi perbuatanya melainkan meratapi mengapa tidak optimal.

Seseungguhnya pada suatu ketika nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang memiunta untuk ditunda matinya, alasannya pada ketika itu barulah terlihat dengan terperinci konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat alasannya ingin bersedekah. Namun kematian akan tiba pada waktunya, tidak sanggup dimajukan dan tidak sanggup diakhirkan.

Kisah Perempuan Mustajab, Doanya Eksklusif Didengar Allah Dan Para Malaikat Sampai Langit Ketujuh

Kumpulan Doa Islami - Berdoa kepada Allah SWT merupakan salah satu cara terbaik untuk kita mendekatkan diri kepada Sang Kholik, serta jalan kita memohon kepada Allah supaya hajat kita terkabulkan. Tentu kita semua berharap doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT segera terkabul, tapi ternyata tidak semua doa-doa hambaNya pribadi dikabulkan oleh Allah SWT.

Lain halnya dengan perempuan yang luar biasa berikut ini, doa dia seketika didengar Allah SWT dan para Malaikat. Kisah perihal kemulian seorang perempuan pernah dikisahkan semasa hidup Nabi Muhammad SAW. Salah seorang perempuan dengan tingkat keimanan tinggi tiba menemui Nabi. Ia menghadapi suatu kondisi yang mengharuskannya mendapatkan pencerahan.

Namun ternyata, kala itu Nabi belum bisa menjawab alasannya yaitu belum ada wahyu yang diturunkan Allah terkait hal tersebut. Namun, ini tak lantas menciptakan si perempuan menyerah. Ia berdoa dan memohon kepada Allah supaya memberi jalan keluar atas permasalahan hidupnya.

Ternyata doa ini pribadi diijabah Allah. Seketika Nabi mendapatkan wahyu Surat Al-Mujadalah sehingga bisa menjawab permasalahan perempuan tersebut. Siapa dia sebenarnya? Mengapa doanya sanggup menembus langit ke tujuh dengan demikian cepat?

Nama lengkap perempuan ini yaitu Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Farah bin Tsa’labah Ghanam bin ‘Auf. Ia merupakan istri dari Aus bin Shamit bin Qais dan dari ijab kabul mereka lahir seorang putra yang diberi nama Rabi’.

Kisah ketika doanya yang bisa menembus langit ini bermula ketika terjadi permasalahan antara dirinya dan suaminya. Dalam kondisi marah, sang suami kemudian mengeluarkan kalimat yang membuatnya merasa cemas dan perlu memperjelasnya kepada Nabi.

Kalimat yang dilontarkan suaminya tersebut yaitu “Bagiku engkau ini menyerupai punggung ibuku”. Meski sehabis itu suaminya berlalu pergi bersama sahabat-sahabatnya, namun tidak serta merta menciptakan Khaulah melupakan perkataan tersebut begitu saja.

Baginya perkataan tersebut menyerupai talak dari sang suami kepada dirinya. Sepulangnya dari berkumpul dari sahabatnya, sang suami kemudian menginginkan korelasi suami istri dengan Khaulah.

Namun, Khaulah menolak alasannya yaitu perasaannya yang begitu tidak bisa mendapatkan atas ucapan Aus sang suami. Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau dihentikan menjamahku alasannya yaitu engkau telah menyampaikan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan aturan perihal insiden yang menimpa kita.”

Setelah insiden tersebut, Khaulah kemudian menemui Rasulullah SAW. Ia pun menceritakan insiden yang dialaminya kepada sang Nabi. Ia berharap Nabi menunjukkan pencerahan terhadap apa yang sudah dialami. Namun, Ia harus kecewa, pasalnya pada masa itu, belum ada insiden yang dihadapi umat dan gres Khaulah yang mengalaminya. Sehingga belum turun firman Allah yang menjelaskan perihal hal ini.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut … saya tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”

Ini artinya, korelasi mereka sudah tidak diperbolehkan lagi. Namun, hati kecil Khaulah pun masih bergejolak, mengingat jikalau Ia berpisah dengan sang suami, maka akan sulit baginya menghidupi diri dan anaknya Rabi’. Namun Rasulullah Shalalahu ‘alaihi wasallam tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya.”

Setelah insiden ini, perempuan tersebut terus berdoa memohon kepada Allah supaya memberi petunjuk terkait permasalahannya. Kedua matanya meneteskan air mata dan perasaan menyesal. Tiada henti-hentinya Ia berdoa ini berdo’a yang kemudian dikabulkan Allah.

“Yaa Allah sesungguhnya saya mengadu kepada-Mu perihal insiden yang menimpa diriku.”.

Ternyata doa ini dihijabah Allah. Rasulullah SAW seketika pingsan menyerupai biasa ketika mendapatkan wahyu. Kemudian sehabis Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sadar kembali, dia bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat Al-Qur’an perihal dirimu dan suamimu, kemudian dia membaca firman QS. Al-Mujadalah: 1-4, yang artinya:
Orang-orang yang menzhihar (menganggap isterinya sebagai ibunya, atau menyamakan istrinya dengan ibunya sebagaimana ucapan Aus di alinea kedua di atas, Red) isterinya di antara kau padahal tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.
Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.
Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al-Mujadilah : 1-4)

Setelah turun ayat ini, barulah Rasulullah SAW bisa menjelaskan perihal permasalahan yang dihadapi Khaulah. Baginda Rasulullah SAW kemudian menjelaskan kepada Khaulah perihal kafarat (tebusan) Zhihar:

Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekakan seorang budak!”

Khaulah: “Ya Rasulullah dia tidak mempunyai seorang budak yang bisa dia merdekakan.”

Nabi SAW: “Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut.”

Khaulah: “Demi Allah dia yaitu pria yang tidak besar lengan berkuasa melaksanakan shaum.”

Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin.”

Khaulah: “Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.”

Nabi SAW: “Aku bantu dengan separuhnya.”

Khaulah: “Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.”

Nabi SAW: “Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaullah dengan anak pamanmu itu secara baik.”

Itulah Kisah Khaulah Bin Tsa'labah, Wanita Mustajabah Doanya Langsung Didengar Allah dan Para Malaikat Hingga Langit Ketujuh. Semoga kisah ini bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kita dalam beribadah. Amin. Wanita diciptakan dengan ribuan kemuliaan. Saking mulianya, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa mendahulukan perempuan daripada yang lain. Bahkan, pernah disebutkan jikalau doa kaum perempuan bisa terdengar sampai lapis langit ke-7.

Kisah Nyata: Mayat Yang Diantar 70 Ribu Malaikat Tapi Masih Menerima Kesulitan Dalam Kubur

Blogkhususdoa - Kita semua meyakini bahwa setiap orang yang bernyawa niscaya akan mencicipi mati. Namun, kita tidak pernah tahu kapan, dimana dan bagaimana kita mati pada nantinya. Oleh lantaran itu, kita harus mempersiapkan sebaik mungkin bekal yang akan kita bawa untuk menuju kehidupan di alam abadi kelak. Sungguh beruntungnya orang yang diantar dan dimuliakan jenazahnya saat ia sudah meninggal. Bahkan, insan yang paling mulia pun ikut mengurusi segala hal dalam pengurusan mayat itu.

Kisah Jenazah yang diantar oleh 70 ribu malaikat menjelaskan kepada kita bahwa orang yang taat dan baik maka akan mendapat kebaikan pula dari Allah. Seperti dilansir dari laman tibunnews.com (7-9-2017), Kisah ini bermula saat ada salah seorang yang meninggal pada zaman Rasulullah. Ada seorang sahabat berjulukan Sa’ad. Hari itu ia meninggal dunia. Tidak ibarat biasanya, Rasulullah begitu sibuk mengurusi mayat orang ini. Tanpa serban dan bantalan kaki dia mengangkat keranda, berlari kesana kemari untuk mengantarnya menuju liang kubur.


Sesampainya di kuburan, dia pun turun ke dalam dan menata serta membenahi liang itu. Para sahabat terheran, kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau melaksanakan sesuatu yang tidak biasa. Tanpa surban dan bantalan kaki berlari ke kanan dan kiri untuk mengangkat keranda ini.”

Rasul menjawab, “Demi Allah, saya melihat Jibril dan para malaikat melaksanakan apa yang kulakukan.”

Sahabat itu bertanya lagi, “Kenapa hingga demikian wahai Rasulullah?”

“Orang ini selalu membaca Surat “Qul Huwallahu ahad” dalam keadaan duduk, bangkit dan berjalan. Dan tahukah engkau, ada 70 ribu malaikat yang hadir di pemakaman ini.” jawab beliau.

Dari kejauhan, datanglah ibu dari mayat ini. Melihat Rasulullah berada di dalam liang lahat, ia menjerit “Sungguh beruntung engkau wahai putraku Sa’ad. Kau niscaya akan masuk surga.”

Ketika mendengar ibu ini, Rasul menegurnya, “Sebentar wahai ibu Sa’ad, janganlah engkau memilih sesuatu mendahului Allah swt. Putramu ini sedang dihimpit di dalam kuburnya.”

“Kenapa wahai Rasulullah?” tanya sang ibu.

“Karena perangainya jelek didalam keluarganya.”

Bayangkan, sehabis mendapat kemuliaan diantar oleh Rasulullah dan 70 ribu malaikat. Ternyata orang ini masih saja mendapat kesulitan dalam kuburnya disebabkan adat yang jelek kepada keluarganya. Berdasarkan hal ini, kita tahu bahwa tidak ada yang sanggup menjamin seseorang akan masuk ke dalam nirwana apa pun itu. Termasuk mayat yang diantar Jibril, kecuali Nabi Muhammad.

Selain itu, seseorang yang mempunyai amalan sebanyak apapun jikalau ia tidak baik terhadap keluarganya, maka hal itu sia-sia. Sebuah dalil menjelaskan bahwa sebaik-baik orang ialah orang yang baik pada keluarganya.

Keluarga ialah orang pertama yang mempunyai waktu lebih dalam hidup kita. Antar anggota keluarga saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan. Oleh lantaran itu, kita dianjurkan untuk berbuat baik pada keluarga. Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk berbuat baik kepada orang tua, suami/ istri, anak, saudara, dan anggota keluarga lainnya.

Percuma jikalau ia berbuat baik pada orang lain, tetapi mengabaikan keluarganya. Karena setiap anggota keluarga mempunyai hak dan kewajiban atas masing-masingnya. Orang yang didatangi banyak malaikat di pemakamannya saja tidak menjadi jaminan untuk masuk surga. Bahkan masih juga mendapat siksa lantaran perbuatan buruknya pada keluarga. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa tak ada yang sanggup mendahului ketetapan Allah. Apapun yang kita lakukan di dunia akan dimintai pertanggung balasan di akhirat. Oleh lantaran itu, waspadalah terhadap setiap ucapan dan perbuatan yang kita lakukan di dunia.

Kisah Inspiratif Perempuan Yang Rela Tinggalkan Karir Demi Taat Pada Suami (Sangat Menyentuh Hati)

Kumpulan Doa Islami - Assalamu'alaikum, bahagia sekali hingga detik ini kami masih sanggup mengembangkan untuk teman semua, yang mana pada kesempatan ini kami akan mengembangkan kisah inspiratif yang sangat menyentuh hati. Semoga dengan adanya kisah berikut, sanggup menjadi pola bagi para perempuan karir khususnya dan para perempuan (ibu rumah tangga) pada umumnya.

Sebagaimana judul yang kami sebutkan, kisah ini menceritakan seorang perempuan karir yang rela berhenti bekerja (tinggalkan karir) hanya demi taat kepada suami. Padahal, honor perempuan ini tidak mengecewakan cukup besar yaitu 7 Juta/bulan sedangkan suaminya hanyalah seorang penjual roti bakar dan es cendol yang pendapatannya kisaran 600-700rb/bulan. Bukan alasannya ialah disuruh berhenti bekerja oleh suaminya, tetapi perempuan karir ini dengan kemauannya sendiri rela meninggalkan karir pekerjaannya, hanya demi taat kepada suami.

Lantas apa alasan perempuan karir ini berhenti bekerja? Penasarankan? Yups pribadi saja simak Kisah Inspiratif yang Menyentuh Hati "Wanita yang Rela Tinggalkan Karir Demi Taat pada Suami" selengkapnya berikut ini :

 bahagia sekali hingga detik ini kami masih sanggup mengembangkan untuk teman semua Kisah Inspiratif Wanita yang Rela Tinggalkan Karir Demi Taat pada Suami (Sangat Menyentuh Hati)
Ilustrasi : Wanita Karir

Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.

Dan risikonya pembicaraan hingga pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.

“Belum ”, jawabku datar.

Kemudian perempuan berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”

Pertanyaan yang hanya sanggup ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab alasannya ialah masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” saya mencoba bertanya.

“Menunggu suami” jawabnya pendek.

Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak sanggup kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya perempuan karir. Akhirnyakuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”

Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jikalau mbak ini memang seorang perempuan pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat ibarat ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang kemudian saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang absurd menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita perempuan karir yang sanggup menciptakan kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi beliau hanya tersenyum.

Saudariku, boleh saya kisah sedikit? Dan saya berharap ini sanggup menjadi pelajaran berharga buat kita para perempuan yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh pria yang baik-baik dan sholeh saja.

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah gres 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis alasannya ialah merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?

Waktu itu jam 7 malam, suami saya saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami perempuan karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan ketika itu suami juga bilang jikalau beliau masuk angin dan kepalanya pusing.

Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, pusing nih, ambil sendirilah !!”.

Pusing menciptakan saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudahbersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak mempunyai khodimah)?

Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.

Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini?

Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya.

Air mata ini menetes, air mata dikarenakan telah melupakan hak-hak suami saya.”

Subhanallah, saya melihat mbak ini kisah dengan semangatnya, menciptakan hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

“Kamu tahu berapa honor suami saya? Sangat berbeda jauh dengan honor saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari honor saya sebulan.

Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.

Dengan honor yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memperlihatkan hasil jualannya itu pada saya dengan lapang dada dari lubuk hatinya.

Setiap kali memperlihatkan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya.

Saat itu saya gres mencicipi dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini menciptakan saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada perempuan karir yang selamat dari fitnah ini”

“Alhamdulillah saya kini tetapkan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih sanggup menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jikalau tanpa harta, dan alasannya ialah harta juga perempuan sering lupa kodratnya”

Lanjutnya lagi, tak memperlihatkan kesempatan bagiku untuk berbicara. “Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, alasannya ialah orang tua, dan saudara- saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”

Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa saya sanggup ibarat dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk bawah umur kita kak. Biaya hidup kini ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah abang malah pengen berhenti kerja. Suami abang pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami abang pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.

Salah abang juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar abang duluan sebelum sama yang ini. Tapi abang lebih milih nikah sama orang yang belum terang pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami abang yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, tampaknya suami abang itu lebih suka hidup ibarat ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, hingga heran aku, apa maunya suami abang itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya ketika dimintai pendapat.

“Anti tau, saya hanya sanggup menangis ketika itu. Saya menangis bukan alasannya ialah apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan alasannya ialah itu. Tapi saya menangis alasannya ialah imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya. Bagaimana mungkin beliau meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?

Bagaimana mungkin beliau menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?

Bagaimana mungkin beliau menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?

Bagaimana mungkin beliau menghina orang yang berani tiba pada orang bau tanah saya untuk melamar saya, ketika itu orang tersebut
belum mempunyai pekerjaan ?

Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya alasannya ialah sebuah pekerjaaan ?

Saya tetapkan berhenti bekerja, alasannya ialah tak ingin melihat orang membanding-bandingkan honor saya dengan honor suami saya. Saya tetapkan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.

Saya juga tetapkan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu.

Saya gembira dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, alasannya ialah tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan ibarat itu.

Disaat kebanyakan orang lebih menentukan jadi pengangguran dari pada melaksanakan pekerjaan yang ibarat itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang menciptakan saya begitu gembira pada suami saya.

Suatu ketika jikalau anti mendapatkan suami ibarat suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan problem pekerjaannya ukhty, tapi problem halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, biar Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum anggun padaku.

Dan beliau mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang pria dengan memakai sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi beling helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, perempuan itu meninggalkanku.

Wajah itu hening sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….
Sekarang giliran saya yang menangis. Hari ini saya sanggup pelajaran paling berkesan dalam hidupku.
Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar

Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak mendapatkan pinangan dari pria yang baik agamanya.

Itulah Kisah Wanita yang Rela Tinggalkan Karir Demi Taat pada Suami yang Sangat Inspiratif dan Menyentuh Hati, sebagaimana kami lansir dari laman KisahMuslimcom. Meskipun tidak ada kejelasan apakah ini kisah fiktif atau kisah nyata, tetapi setidaknya kita semua sanggup menghambil pesan tersirat dibalik kisah inspiratif perempuan karir tersebut. Semoga bermanfaat.